Rambut Cepak Bayar Lebih Murah :)

Agustus 20, 2006

Ternyata ada untungnya juga pake potongan rambut cepak. Ceritanya gw naik angkot dari Terminal Bis Leuwi Panjang ke Kebon Kalapa. Gw naik angkot yang ngetem, tapi untungnya dalam 5 menit angkot sudah penuh. Nggak nunggu lama angkot pun berangkat.

Baru jalan dikit, kenek angkot langsung narikin uang ongkos. Nah, yang pertama bayar bapak-bapak, ngasih uang 10 ribu rupiah untuk 3 orang. Dia heran, kok cuma dikasih kembalian cuma uang seribu rupiah. Lalu dia nanya.

“Kang, ongkosnya berapa sih? biasanya juga cuma 2 rebu?”

“Ya, sekarang kan malem. Jadi ongkosnya lebih mahal.” Jawab si kenek.

Tiba-tiba penumpang di sebelah gw, yang bertampang seperti anggota polisi (dan memang sepertinya polisi), nanya sambil rada ketus.

“Emang bedanya malem ama siang apa?” Tanya dia dengan nada tinggi.

“Ya, malem banyak calonya Pak” Kata si kenek. Jawabannya rada kaku. Sepertinya dia tahu kalau si Bapak tadi aparat polisi.

Dialog selanjutnya tidak gw tuliskan. Banyak yang harus di sensor hehehe. Tapi intinya, si bapak itu nggak mau terima harus bayar mahal. Dan si kenek, cuma diem saja.

Nah, tiba giliran gw ngasih uang. Gw kasih uang 5 rebu. Eh dia kembaliin 3 rebu. Berarti gw cuma bayar 2 rebu dong. Gw pastiin kalau dia nggak salah ngasih. Gw Sodorkan lagi uang 3 rebu tadi ke si kenek, tapi dia balikin uang tadi. Tetep 3 rebu rupiah.

Ya sudah. Mungkin gw ada tampang kayak aparat kali. Memang potongan rambut cepak😀 Jadi menurut si kenek, mungkin gw layak dapat potongan harga. Hehehe

Nah, si Bapak yang ngotot tadi, nggak bayar kok. Tapi bukan 100 persen salah si bapak aparat itu (atau mungkin dia cuma belagak kayak aparat polisi, aslinya mungkin bukan aparat polisi), tapi ada peran si kenek juga sih. Dia nggak nagih ongkos sama si bapak itu😀

Gw pribadi, lebih lebih sebel sama si bapak sebelah gw, udah ngotot dan bikin suasana nggak nyaman, nggak bayar pula😀 Soal si kenek yang minta ongkos lebih mahal, gw sih maklum saja. Memang kalau naik angkot yang ngetem, resikonya harus siap bayar uang lebih mahal. Itu realitas yang harus kita terima, tidak ada pilihan kecuali menerimanya. Lagi-lagi ini karena aparat yang nggak mampu menertibkan premanisme. Hmmm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: