Mudik

Juli 7, 2006

Hari ini saya sudah siap-siap untuk pulang kampung. Semua urusan kantor sebisa mungkin harus bisa beres sebelum Jumat’an. Soalnya siangnya saya harus langsung cabut, balik ke kost-kostan. Setelah itu pulang menuju ke Garut.

Ya, saya terpaksa harus balik ke kostan. Gara-garanya saya belum bayar uang bulanan. Biasanya sih awal bulan saya sudah bayar, tapi gara-gara sabtu dan minggu kemarin saya nggak ada di kost-kostan, jadinya nggak sempet bayar uang sewa bulanan. Bete memang, seharusnya saya bisa langsung ambil jalur ke kampung rambutan. Langsung dari depan kantor.

Untuk mudik kali ini, saya diplot menjadi perwakilan keluarga. Dua kakak saya yang sudah married tidak bisa datang menghadiri resepsi pernikahan sodara sepupu. Adik saya yang sudah relatif ‘cukup umur’ (baru lulus kuliah), sepertinya kurang cocok untuk dijadikan perwakilan keluarga. Lah, saya yang belum married tapi sudah bekerja sepertinya sudah masuk hitungan, HARUS DATENG! Hehehe.

Kadang, sampai detik ini pun, saya masih berpikiran bahwa saya belum dewasa. Jadi kalau ikutan kumpul-kumpul acara keluarga, saya lebih suka ngekor orang tua. Padahal kalau dilihat dari umur, ya sudah tua kali yah. Sebagian besar temen-temen sebaya saya sudah pada married. Lah saya, kepikiran saja belum. Hehehe

Hush, jangan doa’in yang enggak-enggak. Saya jg nggak mau dapet predikat bujang lapuk. Ya, mungkin setahun dua tahun lagi masih single, tapi setelah itu mudah-mudahan segera dapet jodoh.

Balik lagi ke cerita mudik. Sebetulnya saya pulang disertai perasaan bersalah karena sudah lama nggak nengok orang tua di Garut. Apa (bokap) sekarang sudah hampir pensiun dari kepala sekolah. Mamah (nyokap), sudah hampir dua tahun pensiun dari Guru. Walaupun ada adik yang paling bungsu yang masih menemani mereka, tapi pada kesehariannya mereka lebih banyak berdua. Anak-anaknya sudah lama nggak tinggal di sana.

Kedua kakak saya sudah lama pindah dan menetap di kota Tangerang dan Bogor. Keduanya pergi ikut suaminya. Ya, maklumlah kakak ipar yang pertama kerja di Jakarta, dan dia memilih membeli rumah di Tangerang. Sedangkan kakak ipar yang satu lagi kerja di Bogor. Saya sendiri, sudah lebih dari tujuh tahun tinggal di Bandung. Dan dua tahun terakhir tinggal di Jakarta.

Sedih rasaya kalau inget kedua orang tua saya. Saya masih inget kata-kata mereka, “Nya asalna ge Mamah jeung Apa teh ngan duaan. Ayeuna kabeh geus parindah, nya balik deui tinggal duaan.

Dan sekarang ucapan itu hampir menjadi kenyataan. Adik yang paling bungsu, kalau dia lulus UMPTN, sudah bisa dipastikan dia akan mengikuti jejak kakak-kakaknya. Keluar dari rumah, pindah ngekost ditempat kuliah dia yang baru.

Sebetulnya saya sudah sempet diskusi dengan kakak yang pertama. Bagaimana kalau kedua orang tua diajak pindah ke Tangerang saja. Rumah yang di Garut dijual saja, trus beli rumah di sekitar kompleks perumahan kakak saya yang di Tangerang. Bahkan kalau bisa deketan, misalnya sebrang jalan atau samping rumah. Saya sih nggak menyarankan untuk pindah serumah dengan kakak saya. Di samping rumahnya yang kekecilan, saya pikir kondisi serumah kadang berpotensi menimbulkan konflik. Mending deketan, tapi tetep misah rumah.

Tapi ya itu tadi, saya nggak yakin mereka berdua akan mau. Lagipula kondisi Tangerang dan Garut jauh berbeda. Tangerang tuh suhu udaranya panas dan kehidupannya penuh dengan kesibukan. Sedangkan Garut, kotanya relatif masih adem dan jauh dari hiruk pikuk kesibukan seperti kota-kota besar pada umumnya.

Untuk saat ini, yang mungkin bisa saya lakukan adalah lebih sering menghubungi kedua orang tua saya via telp. Dan sesekali pulang kampung seperti sekarang. Mudah-mudahan bisa lebih sering lagi, karena yang sudah-sudah saya jarang banget pulang. Hmmm …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: